GMR 7 -育成の役割とその特性-
Bhs paling bawah
2026年6月27日
ABMのインターナルゲームを見せてもらった。
アカデミー内の大会である。
身内だけなのに公式戦より派手に大会を運営するのがインドネシア流である。
インドネシアに来て育成に関わる機会が多くなった。
今までのバスケットボール人生は育成には程遠いところで生きてきたので
毎日が勉強である。
育成はバスケットボールの専門性だけ上げればいいというわけではないので、考えることが多くそのマネジメントもバスケットボールのプロコーチ以上の専門性を有すると言えるだろう。
memo: Kotorの時にフリースローファールがあった時に、負けているチームはタイムアウトを取ればゲームクロックを止めることができる。戦略的にこれは素晴らしい采配だと勝手に感動したのでメモしておく。
さて、試合を見ながら少し育成について感じることがあった。
私のこっそりお気に入りの選手がいる。
年齢を考えると彼女はとてもうまくなると思う。
これから身長もどんどん伸びてポジションも変わっていくかもしれない。
しかし、彼女には課題がある。
もちろんファンダメンタルはもちろんであるが、
精神的にムラがありすぎる。
同世代に比べてフィジカルポテンシャルが高いので、
フィジカルコンタクトでよく相手を吹っ飛ばしてファールを吹かれる。
(もちろんイリーガルなので然るべきファールではある)
ファールがかさむとすぐ審判に不満を表して不貞腐れる。
自分がうまくいかないと感情的になり、
パフォーマンスがどんどん落ちていく。
とても見ていて「もったいないな」と思う選手である。
自分で自分を律するようなセルフコントロールは子どもには容易ではない。
きっとコーチングスタッフと保護者が協働しながら育てていかないといけないものだろう。
育成は基本的に長所をひたすら伸ばしていくほうがその目的に適しているような気がするが、必ず次のステージでぶち当たるような壁や課題はもちろんコーチには見えてしまう。
荒削りなままその荒さを残して次のステージで、次の指導者や環境にその課題を預けるか、少しでもその課題を自分が面倒見れるうちにコーチの手によってその荒さを整えてあげるか。
長所を育てるのはそんなに難しくないが彼らに課題を突きつけるということは一歩間違えば簡単に彼らの信頼を失ってしまう。心身ともに未発達な彼らにとって現実の直視は簡単でもなく、そして受け入れがたい事実だからである。
育成のコーチの資質は「課題をしかるべきタイミングで、然るべき手段で、最大効率を考えて、選手に課して、選手が自分の指導下にいる間はそれをしっかりReviewしてあげられる技術と我慢強さ」だと感じた。
選手の特性は選手によって皆違う。
平等な指導などそんな簡単にはいかない。
私が高校生のとき自分の代のキャプテンはひたすらスネ倒すようなやつだったが、
コーチが彼を怒るようなことはなかった。
他の選手が拗ねる時は普通にボロクソに怒られるのに、彼だけは怒られることがなかった。
(当時はエコひいきも甚だしいと私はずっと不公平を心の中に秘めていた秘めていた)
10年後ぐらいにその話をコーチにすると、
「あいつを怒ったら確実にあいつはバスケを辞める。だから怒らなかった」
という答えだった。
選手の時はわからない心理も、
指導者になった今なら少しはわかる。
コーチは選手の特性に合わせて指導のアプローチを変えないといけないため、時によって選手には「不公平」「理不尽」に映って見えてしまうことが多々あるということ。
(選手は自分の都合でしか基本的にものを見れないため)
指導者は簡単に選手の心を抉ることができる。
指導者は試合には出ないので、ミスする選手に絶対的に優位な立場から追い詰めることができる。
だからこそその指導は凶器にもなりうるし、
選手との相性が悪ければ一瞬で指導者の立場も危うくさせられるだろう。
(選手も保護者も当たり前のようにモンスターなる時代が到来したので)
育成のコーチは本当にやることが多い。
選手を自分が指導できる期間で「どこまでのステージ」に彼らを連れていくかという課題を突きつけられる。
Over Coachingでは次のステージでバーンアウトさせる可能性もある。
Under Coachingでは次のステージでドロップアウトさせる可能性もある。
彼らを「どこまで育てたいのか?」ということをひたすら考えなければならない。
日本代表にするための育成と、
バスケットボールを通して楽しく学校生活を過ごしてほしい、
できることなら生涯通してバスケットボールに携わってくれる人間になってほしい。
間違いなく上記のアプローチの方法は同じにはならないだろう。
だからこそ育成の指導者はしっかりと自分の指導を選手や保護者に説明できるようにならないといけない。
良い指導と売れる指導は同じではない。
良き指導者が必ず勝てるわけでもない。
コーチによって趣旨やスタイル、哲学が違うのは当たり前のことで、
保護者がどこで子どもにバスケットボールを学んでほしいかを、
ドクターショッピングのように、コーチショッピングするのもごくごく自然なことだと思う。
子どもを「どこに連れていくか」で指導者選びがとても大切になってくるからである。
子どもの特性をしっかりと理解し、
子どものFeasibilityを日々アップデートし、
子どものレジリエンスを信じて、
子どものデターミネーションを都度確認しながら、
子どもと対話しながら一緒に彼らの未来を模索していく作業が、
育成コーチのやらなければならない果てしない道のりである。
子どもの「未来への責任を負う」という役割はなかなかボランティアベースでは難しいが
それでもその土壌が今日の日本のバスケットボールを積み上げてきたのも間違いない。
育成としてチームを持つということは大変だなと常々思うインドネシアの日々である。
p.s
ABMの大会のエキシビジョンで保護者の試合が組まれていた。
お母さんたちはコントみたいな試合になっていて、足がもつれ倒して転倒しているお母さんがたくさんいた。本当に無理しないでほしいとハラハラしながら見ていた。
お父さんたちは明らかに昔は鳴らしていたなという人が多くバスケットボールになっていた。
日本で運動会で保護者が参加するというのはよくあるが、
バスケットボールの試合で保護者がやるというエキシビジョンは日本はあまりないように思う。
間違いなくお母さんたちは子どもたちがどれほど頑張っているかということを身を持って(こけまくりながら)知ったことであろう。バスケットボールは本当に難しい。子どもたちがこんな難しいスポーツを一生懸命学んでいる、ということを体験したことが、家での家族の時間のコミニケーションを増やすような気がしてインドネシアのバスケットボール文化の良さを感じた。これもお母さんたちが若い(子どもは10-13歳ぐらい)からできたことで、さすがに初心者でこれ以上年配だとおすすめはできないが、お母さんたち同士も交流して楽しんでいた。
バスケットボールはうまいかどうかで参加の資格は決まらない。
下手なのでしてはいけないルールはどこにもない。
バスケットボールの質とイベントの質はイコールではない。
うまいかどうかよりもおもしろいことのほうがもしかしたら重要なのかもしれない。
そして、少し上に書いたことと矛盾するかもしれないが、なぜスポーツには国籍や人種、言語や民族、性別や宗教などの色々なものを超えて、人々の交流を促すことができるのだろうと考えた時にふと思いついたことがある。
それはやはり上手いかどうかの「実力至上主義」なのである。
上手ければ、貧困であっても関係ない。
上手ければどんな人種差別も凌駕できる。
上手ければどんな人にもチャンスが与えられる。(と願っている)
スポーツの本質は「暇つぶし」であり「勝ち負け」である。
そしてそれを「人生を豊かにするための手段として」どう活用するか。
一見すると相反するようなこれらのことを改めてインドネシアのバスケットボールは教えてくれた。残り14ヶ月ほど、まだまだ勉強させてもらいたい。
GMR 7 - Peran Pembinanaan Pemain Muda dan Karakteristiknya -
27 Juni 2026
Saya berkesempatan melihat pertandingan internal di ABM (Academy Basketball).
Ini adalah kompetisi di dalam akademi itu sendiri.
Meskipun ini hanya turnamen internal antaranggota, cara orang Indonesia menyelenggarakannya justru jauh lebih meriah dan megah daripada pertandingan resmi. Ini benar-benar gaya khas Indonesia.
Sejak datang ke Indonesia, kesempatan saya untuk terlibat dalam pembinaan pemain muda (youth development) menjadi jauh lebih banyak.
Sepanjang karier basket saya sebelumnya, saya hidup di lingkungan yang sangat jauh dari dunia pembinaan usia dini, sehingga setiap hari di sini adalah proses belajar yang baru bagi saya.
Pembinaan pemain muda tidak sekadar meningkatkan keahlian teknis basket semata. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, dan manajemen di bidang ini membutuhkan keahlian yang bahkan lebih spesifik daripada seorang pelatih basket profesional pada umumnya.
• Catatan (Memo): Saat melawan tim "Kotor", ketika terjadi pelanggaran yang membuahkan tembakan bebas (free throw foul), tim yang sedang tertinggal mengambil time-out untuk menghentikan waktu pertandingan (game clock). Secara strategis, ini adalah keputusan kepelatihan yang sangat luar biasa. Saya sangat kagum secara pribadi, jadi saya mencatatnya di sini.
Sembari menonton pertandingan, ada beberapa hal yang saya rasakan mengenai pembinaan pemain muda ini.
Ada satu pemain yang diam-diam menjadi favorit saya.
Melihat usianya saat ini, saya rasa dia akan berkembang menjadi pemain yang sangat hebat. Ke depannya, tinggi badannya akan terus bertambah, dan posisinya di lapangan mungkin saja berubah.
Namun, pemain ini memiliki sebuah tantangan besar.
Tentu saja kemampuan dasarnya (fundamental) masih perlu diasah, tetapi tantangan utamanya adalah stabilitas mentalnya yang sangat tidak konsisten (moody).
Karena potensi fisiknya lebih tinggi dibandingkan anak-anak seusianya, dia sering membuat lawan terpental saat terjadi benturan fisik (physical contact), sehingga wasit meniup peluit tanda pelanggaran (foul). (Tentu saja itu adalah illegal contact, jadi keputusan foul tersebut sudah semestinya).
Ketika jumlah pelanggarannya mulai menumpuk, dia langsung menunjukkan rasa tidak puas kepada wasit dan mulai cemberut atau mogok bermain dengan baik.
Jika penampilannya tidak berjalan mulus, dia menjadi emosional, dan performanya pun langsung merosot tajam.
Melihatnya bermain, saya merasa dia adalah tipe pemain yang "sangat disayangkan" potensinya jika terhambat hal seperti itu.
Kemampuan mengendalikan diri sendiri (self-control) untuk tetap disiplin bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak. Ini adalah sesuatu yang harus ditumbuhkan melalui kolaborasi yang erat antara staf kepelatihan dan orang tua.
Dalam pembinaan pemain muda, pada dasarnya fokus untuk terus melejitkan kelebihan pemain terasa lebih sesuai dengan tujuannya. Namun, seorang pelatih pasti bisa melihat dinding atau tantangan yang akan dihadapi pemain tersebut di level berikutnya.
Apakah pelatih akan membiarkan kemampuan pemain tersebut tetap "kasar" apa adanya dan menyerahkan tantangan itu kepada pelatih atau lingkungan di level berikutnya? Ataukah pelatih akan merapikan dan mengasah "kekasaran" tersebut selagi sang pemain masih berada di bawah bimbingannya?
Menumbuhkan kelebihan anak tidaklah begitu sulit. Namun, menyodorkan tantangan atau kekurangan di depan mata mereka adalah hal yang jika salah langkah sedikit saja, bisa membuat pelatih kehilangan kepercayaan dari mereka dengan mudah. Bagi anak-anak yang fisik dan mentalnya belum matang, menghadapi kenyataan bukanlah hal yang mudah, bahkan sering kali menjadi fakta yang sulit mereka terima.
Saya merasa bahwa kualifikasi seorang pelatih pembina (developmental coach) adalah "kemampuan dan kesabaran untuk memberikan tantangan kepada pemain pada momen yang tepat, dengan cara yang tepat, dengan mempertimbangkan efisiensi maksimum, serta mendampingi dan mengevaluasinya (review) secara konsisten selama pemain tersebut berada di bawah bimbingannya."
Karakteristik setiap pemain itu berbeda-beda.
Memberikan bimbingan yang "setara/sama rata" kepada semua anak tidaklah semudah itu.
Ketika saya masih di SMA, kapten tim di angkatan saya adalah tipe orang yang sangat sering merajuk dan keras kepala. Namun, pelatih tidak pernah memarahinya.
Padahal, jika pemain lain yang merajuk, mereka akan dimarahi habis-habisan tanpa ampun. Hanya kapten itu yang tidak pernah dimarahi. (Saat itu, saya memendam rasa tidak puas dalam hati karena menganggap pelatih sangat pilih kasih dan tidak adil).
Sekitar 10 tahun kemudian, ketika saya menanyakan hal itu kepada sang pelatih, beliau menjawab:
"Kalau anak itu saya marahi, dia pasti akan langsung berhenti main basket. Makanya saya tidak memarahinya."
Psikologi yang tidak saya pahami saat menjadi pemain dulu, kini setelah menjadi pelatih, saya mulai sedikit memahaminya.
Pelatih harus mengubah pendekatan instruksinya sesuai dengan karakteristik masing-masing pemain. Oleh karena itu, di mata pemain, tindakan pelatih sering kali terlihat "tidak adil" atau "tidak masuk akal" (karena pada dasarnya, pemain cenderung melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang dan kenyamanan mereka sendiri).
Seorang pembimbing/pelatih bisa dengan mudah melukai hati pemainnya.
Karena pelatih tidak ikut bermain di lapangan, pelatih berada di posisi yang sangat diuntungkan untuk menyudutkan pemain yang melakukan kesalahan.
Itulah mengapa metode instruksi pelatih bisa menjadi senjata yang mematikan. Dan jika hubungan (chemistry) dengan pemain buruk, posisi pelatih pun bisa terancam dalam sekejap (terutama di zaman sekarang, di mana pemain maupun orang tua bisa dengan mudah berubah menjadi "orang tua/pemain yang menuntut secara berlebihan" atau monster parents/players).
Pelatih pembina benar-benar memiliki banyak sekali tugas.
Pelatih dihadapkan pada tantangan: "Sampai ke level mana saya harus membawa mereka selama periode bimbingan saya?"
• Over Coaching (Melatih berlebihan): Berisiko membuat pemain mengalami jenuh total (burnout) di level berikutnya.
• Under Coaching (Kurang melatih): Berisiko membuat pemain tersingkir atau menyerah (drop out) di level berikutnya.
Pelatih harus terus-menerus memikirkan, "Sampai sejauh mana saya ingin membesarkan mereka?"
Pembinaan yang bertujuan untuk mencetak pemain Tim Nasional, tentu metodenya tidak akan sama dengan pembinaan yang bertujuan agar anak-anak bisa menikmati kehidupan sekolah dengan gembira melalui basket, atau jika memungkinkan, agar mereka menjadi manusia yang terus terlibat dalam dunia basket sepanjang hidup mereka.
Pendekatan untuk kedua tujuan di atas pastilah berbeda.
Oleh karena itu, pelatih pembina harus benar-benar mampu menjelaskan filosofi dan metode kepelatihannya kepada pemain dan orang tua.
Pelatihan yang baik tidak sama dengan pelatihan yang "laku/populer".
Pelatih yang baik juga tidak selalu berarti pelatih yang selalu menang.
Adalah hal yang wajar jika setiap pelatih memiliki fokus, gaya, dan filosofi yang berbeda. Menurut saya, sangat wajar pula jika orang tua melakukan "coach shopping" (memilih-milih pelatih) seperti halnya "doctor shopping" (mencari opini dokter kedua), demi menentukan di mana anak mereka harus belajar bola basket.
Sebab, dalam menentukan ke mana kita akan "membawa" anak tersebut, pemilihan pelatih menjadi hal yang sangat krusial.
Memahami karakteristik anak dengan baik, memperbarui potensi keberhasilan (feasibility) anak setiap hari, mempercayai ketangguhan (resilience) anak, memastikan tekad (determination) anak dari waktu ke waktu, serta berdialog bersama anak untuk mencari masa depan mereka...
Inilah jalan panjang tanpa akhir yang harus ditempuh oleh seorang pelatih pembina.
Tanggung jawab untuk "memikul masa depan anak" adalah peran yang sulit jika hanya bersandarkan pada basis sukarelawan (volunteer). Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa fondasi itulah yang telah membangun dunia bola basket Jepang hingga seperti sekarang ini.
Hari-hari yang saya lalui di Indonesia selalu membuat saya berpikir bahwa memegang sebuah tim dalam ranah pembinaan adalah tugas yang luar بيه (sangat berat).
P.S. (Catatan Tambahan)
Dalam acara eksibisi di turnamen ABM, diadakan pertandingan antar-orang tua murid.
Pertandingan para ibu berubah menjadi seperti acara komedi; banyak ibu-ibu yang kakinya tersandung sendiri lalu jatuh terjungkal. Saya menontonnya dengan perasaan was-was sambil berharap dalam hati, "Tolong jangan dipaksakan."
Sementara itu, pertandingan para ayah menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang dulunya adalah pemain hebat, sehingga permainannya benar-benar terlihat seperti pertandingan basket sungguhan.
Di Jepang, format di mana orang tua berpartisipasi dalam festival olahraga (undokai) adalah hal yang lumrah, tetapi eksibisi di mana orang tua bermain dalam pertandingan basket sepertinya jarang ada di Jepang.
Melalui pengalaman ini, para ibu pasti merasakan langsung (sambil jatuh bangun) seberapa keras anak-anak mereka berjuang di lapangan. Bola basket adalah olahraga yang sangat sulit. Mengalami sendiri betapa sulitnya olahraga yang dipelajari anak-anak dengan sungguh-sungguh ini, saya rasa akan meningkatkan komunikasi saat berkumpul bersama keluarga di rumah. Ini adalah salah satu sisi positif dari budaya basket di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena para ibu di sini masih muda (anak-anak mereka berusia sekitar 10-13 tahun). Jika mereka pemula dan usianya lebih tua dari itu, tentu saya tidak menyarankannya. Namun, para ibu tampak menikmati interaksi dan kebersamaan sesama mereka.
Dalam basket, hak untuk berpartisipasi tidak ditentukan oleh hebat atau tidaknya seseorang. Tidak ada peraturan di mana pun yang melarang orang bermain hanya karena mereka belum mahir.
Kualitas permainan basket tidak sama dengan kualitas dari acara itu sendiri.
Bisa jadi, unsur "menyenangkan/menarik" jauh lebih penting daripada unsur "hebat/mahir".
Dan, meskipun hal ini mungkin sedikit bertolak belakang dengan apa yang saya tulis di atas, ketika saya merenungkan mengapa olahraga dapat mendorong interaksi antarmanusia dengan melampaui berbagai batas seperti kewarganegaraan, ras, bahasa, suku, gender, maupun agama, sebuah pemikiran melintas di benak saya.
Hal itu tidak lain adalah karena adanya prinsip "Meritokrasi" (keunggulan berdasarkan kemampuan/siapa yang hebat, dia yang unggul).
Jika kamu hebat, kemiskinan tidak menjadi penghalang.
Jika kamu hebat, kamu bisa melampaui segala bentuk diskriminasi rasial.
Jika kamu hebat, kesempatan akan diberikan kepada siapa saja (saya berharap demikian).
Esensi dari olahraga pada dasarnya adalah "mengisi waktu luang" dan "menang atau kalah". Dan bagaimana kita memanfaatkannya "sebagai sarana untuk memperkaya kualitas hidup".
Bola basket Indonesia kembali mengingatkan saya pada hal-hal yang sekilas tampak kontradiktif ini. Dengan sisa waktu sekitar 14 bulan lagi di sini, saya ingin terus belajar lebih banyak lagi.
0コメント